Gagasan

Pendidikan Karakter Bangun Peradaban Bangsa

Oleh : Dedi Siswanto, SPd

DUNIA ini butuh orang-orang yang berpengetahuan dan berpendidikan untuk membangun negaranya. Kalau pendidikannya bagus dan bermutu, maka hasilnya juga dapat diandalkan. Hasil pendidikan ini bisa terlihat dari pembangunan yang dilakukan, artinya semakin  baik dunia pendidikan maka akan semakin majulah suatu bangsa itu.

Pendidikan adalah hal yang sangat dianggap penting di dunia. Pendidikan diperoleh dari proses belajar mengajar di sekolah. Banyak ragam ilmu yang diajarkan guru di sekolah. Ragam ilmu ini akan berguna bagi siswa di dalam menghadapi kehidupannya.

Guru sangat berperan penting di dalam menyalurkan beragam ilmu tersebut. Semakin baik guru meramu pengajarannya sehingga mampu dicerna siswa, maka hasilnya akan semakin baik pula. Namun yang menjadi masalahnya, ketika guru berhasil menyalurkan ilmu pada siswanya, ternyata siswa hanya mampu mendapatkan pengetahuan saja.

Guru perlu memberikan yang lebih selain dari pengetahuan saja, yaitu karakter. Pendidikan karakter sangat diutamakan saat ini karena orang-orang pada zaman ini tidak hanya melihat tinggi pendidikan ataupun gelar yang telah ia raih, melainkan juga pada karakter dari pribadi dari setiap orang.

Proses pendidikan di sekolah masih banyak yang mementingkan aspek kognitifnya ketimbang psikomotoriknya. Masih banyak guru-guru di setiap sekolah yang hanya asal mengajar saja agar terlihat formalitasnya, tanpa mengajarkan bagaimana etika-etika yang baik yang harus dilakukan.

Daniel Goleman dalam bukunya tentang Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligences), menjelaskan bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan diperlukan 80 persen, sementara kecerdasan intelektual hanyalah 20 saja saja. Ini menujukkan pendidikan karakter sangat diperlukan dalam membangun kehidupan yang lebih baik dan beradab, bukan kehidupan yang justru dipenuhi dengan perilaku biadab.

Untuk itu banyak pilar karakter yang harus ditanamkan guru kepada siswa, diantaranya adalah kejujuran. Kejujuran menjadi sebuah barang atau benda langka saat ini. Kejujuran sudah semakin jauh dari kemanusiaan kita.

Nilai-nilai kejujuran tidak didapat dari hanya sekedar teori. Melainkan bagaimana seorang guru mampu mengimplementasikan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Sebesar apapun pentingnya bentuk pengajaran, kejujuran adalah hal yang paling pertama harus kita tanamkan pada diri kita maupun siswa.

Kejujuran merupakan benteng dari semuanya. Seorang intelektual yang jujur sangat dibutuhkan bangsa ini. Jadi tidak hanya sekedar pintar dengan memiliki banyak gelar akademis, melainkan juga nilai-nilai kejujuran harus sedini mungkin ditanamkan.

Selain pilar kejujuran masih ada lagi pilar karakter lainnya, yaitu tentang keadilan. Saat ini banyak kita saksikan ketidakadilan, khususnya di negara kita. Masih banyak kita rasakan sebuah keadilan yang jauh dari harapan.

Hukum kita saat ini masih jauh dari nilai keadilan bahkan terkadang keadilan begitu sulitnya ditegakkan. Nilai-nilai keadilan ini perlu diberikan di bangku sekolah.

Selain itu harus ditanamkan karakter rasa hormat. Hormat kepada siapapun. Hormat kepada guru dan orang tua, adik kelas mempunyai rasa hormat kepada kakak kelasnya, dan kakak kelasnya pun menyayangi adik-adik kelasnya, begitu juga dengan teman seangkatan rasa saling menghargai harus ada dalam diri setiap murid. Dengan memberikan pendidikan karakter rasa hormat ini bisa meniadakan atau setidaknya mengurangi tawuran atar-siswa.

Sudah saatnya sekolah-sekolah merancang dan mengajarkan pendidikan karakter  menjadi mata pelajaran khusus. Para siswa diajarkan bagaimana cara bersikap terhadap orang tua, guru maupun lingkungan tempat hidupnya.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan berkarakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design Pendidikan Berkarakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan.  

Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam; Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik  (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Pengembangan dan implementasi Pendidikan Berkarakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut.

Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan.

Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari 30 persen. Selebihnya (70 persen), peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu, pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30 persen terhadap hasil pendidikan peserta didik.

Selama ini, pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik.

Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif  tinggi, kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar, dan pengaruh media elektronik ditengarai bisa berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik.

Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah.

Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik.

Pendidikan Berkarakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.

Mudah-mudahan dengan diterapkannnya pendidikan karakter di sekolah, semua potensi kecerdasan anak-anak akan dilandisi oleh karakter-karakter yang dapat membawa mereka menjadi orang-orang yang diharapkan sebagai penerus bangsa. Bebas dari korupsi, ketidakadilan dan lainnya. Sehingga bangsa kita tetap berpegang teguh kepada karakter yang kuat dan beradab.

Walaupun mendidik karakter tidak semudah membalikan telapak tangan, oleh karena itu ajarkanlah kepada anak bangsa pendidikan karakter sejak saat ini. ***
Guru SMA Negeri 2 Bengkalis.




Loading...

[Ikuti Riaumandiri.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar