Pesta Kembang Api Sambut Tahun Baru Imlek 2566

Warga Tionghoa Padati Kelenteng Hok Ann Kiong

ilustrasi

Hujan yang turun menjelang pergantian Tahun Baru Imlek Rabu (18/2) malam tidak menyurutkan keinginan warga Tionghoa untuk merayakannya. Jelang pergantian tahun, suara kembang api terus bersahut-sahutan walau tak seramai tahun lalu. Membuat suasana kota Bengkalis benar-benar berbeda dari hari biasa.

Kesiapan warga Tionghoa untuk menyambut kedatangan Tahu Baru Imlek sudah dimulai sejak Rabu (18/9) sore dimana sebagian besar toko-toko tutup lebih awal. Kalau pada hari biasa toko buka hingga malam, tapi pada Rabu (18/9) menjelang sore sudah banyak toko yang tutup. Tidak hanya toko-toko besar, termasuk kedai-kedai dan kios milik suku Tionghoa sudah tutup menjelang sore.

Pada malamnya, sejak pukul 21.00 WIB suara kembang api mulai terdengar. Seiring dengan itu, hujan yang tidak terlalu lebat mengguyur Kota Bengkalis. Hujan ternyata tidak menyurutkan keinginan warga Tionghoa untuk memeriahkan perayaan setahun sekali tersebut.

 Menjelang pergantian tahun suara kembang api makin bersahut-sahutan. Pesta kembang api ini selain untuk lebih memeriahkan suasana, juga memiliki makna tersendiri, yakni untuk mengusir roh jahat di tahun yang baru.

Terpisah, di Kelenteng Hok Ann Kiong, sejak pukul 00.00 WIB warga Tionghoa berdatangan untuk mengadakan acara sembahyang.

Pantauan pada Kamis (19/2) siang kemarin, warga Tionghoa baik tua maupun muda bahkan anak-anak secara tertib memanjatkan doa kepada sang Dewa. Beberapa mereka ada yang membawa kertas sembahyang maupun hio dari rumah, tapi ada juga yang membeli di kelenteng.

Ada beberapa dewa di kelenteng tersebut, namun dewa yang cukup sakeral adalah Dewa Ching Cui Choo She. Tidak mengherankan, di ruang tengah tempat Dewa ini berada dikerumuni banyak warga Tionghoa yang ingin bersembahyang.

Baru kemudian dilanjutkan dengan dewa-dewi lainnya yang berada di samping kanan dan kiri Dewa Ching Cui Choo She. Ada Budha Sakyamuni, Kwan Yin Phu Sha, Chi Tian Ta Sheng, di ruang sebelah kiri. Kemudian Thai Siong Lo Kun, Ngo Ya, Diu Ong Yia,  Kwek Siong Ong, dan Sam Tiong Ong di ruang sebelah kanan.

Tak lupa, mereka juga memanjatkan doa di altar, tepat di pintu utama Kelenteng. Acara sembahyang ini  diakhiri dengan membakar kertas sembahyang di tempat yang telah disediakan, yaitu di kanan dan kiri Kelenteng.

Humas Yayasan Hok Ann Kiong, Herman Kasuma mengatakan, puncak peringatan Imlek akan dilaksanakan pada hari keenam Imlek yaitu acara ritual keliling Kota Bengkalis melakukan penyemahan.  Berbeda dengan tahun lalu, pada tahun ini rute arak-arakan keliling kota Bengkalis diperluas.

Kalau biasanya dari perempatan Jalan Hang Tuah–Ahmad Yani arak-arakan langsung belok ke Hang Tuah. Namun pada tahun ini lurus sampai ke pertigaan Jalan Ahmad Yani-Antara. ***


Dari sana belok kiri menuju perempatan Jalan Antara-Tandun dan lanjut hingga ke Jalan Pattimura.

“Penambahan rute ini sesuai dengan petunjuk sang Dewa, karena kebetulan ada warga kita yang minta,” kata pria pemilik nama Tionghoa Akun ini.

Dalam kesempatan itu, Herman menyampaikan ucapan selamat menyambut Hari Raya Imlek bagi seluruh masyarakat Tionghoa.

 Doa dan harapan kepada seluruh umat semoga, pada tahun baru ini diberikan kebahagiaan, kesuksesan, kemakmuran, kesejahteraan, buat rakyat Indonesia terutama rakyat Bengkalis.

“Setelah pada tahun kuda semua saling berpacu, persaingan cukup keras, berbagai persoalan timbul. Sekarang pada tahun kambing kayu yang lebih mendamaikan, maka harapan-harapan kita tentu tahun ini  diberikan kebahagiaan, kesuksesan, kemakmuran, kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama Bengkalis,” kata Herman Kasuma. (man)


[Ikuti Riaumandiri.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar