Pilkada

Sejumlah Politisi di Senayan Migrasi Partai, Ternyata Ini Penyebabnya

Ketua Komisi II DPR RI, Zainudin Amali dan Eva Sundari dalam diskusi 'Bacaleg Lompat Partai, DPR Banjir PAW, Ganggu Kinerja?'

RIAUMANDIRI.CO, JAKARTA - Sejumlah politisi di Senayan (anggota DPR RI) 'migrasi' partai ketika maju sebagai calon legislatif (caleg) 2019. Setidaknya ada 17 politisi yang pindah partai dan kebanyakan dari Hanura.

"Sebelumnya sudah ada di Pemilu 2014, tapi belum begitu banyak  dan sekarang lebih banyak jumlahnya," kata Ketua Komisi II DPR RI, Zainudin Amali dalam diskusi 'Bacaleg Lompat Partai, DPR Banjir PAW, Ganggu Kinerja?', di Media Center DPR, Kamis (19/7).

"Saya kira apakah ini sama dengan perpindahan transfer pemain di Liga Utama Eropa gitu ya.  Musim ini main di MU besok bisa ke Chelsea, bisa ke Barcelona, itu Kan profesinoal. Tapi karena ini areanya politik tentu ada variabel-variabel yang menyebabkan kenapa perpindahan itu terjadi," ulasnya. 

Menurut politisi Golkar itu, ada empat hal  membuat kader satu partai bisa berpindah. Pertama,  tidak begitu kuatnya ikatan ideologi antara kader atau caleg kepada partai awalnya. 

"Sebab kalau ikatan ideologisnya kuat, seberapapun kondisi partai, ibarat kata besok partainya itu akan rubuh atau mati dia akan tetap bertahan. Karena dia punya keyakinan tentang ideologi yang diyakininya sama dengan partai yang ditempatinya," jelas dia.

Kedua, adalah faktor konflik internal di partai asal. Konflik itu bukan hanya keterbelahan pengurus, tetapi tetapi konflik antar individu dengan pengurus sesama kader. Dia menyebutkan Partai Golkar pernah mengalami itu di 2014 akhir dan berakhir di pertengahan 2016. 

"Itu terasa saat Pilkada 2015 banyak kader-kader potensial partai Golkar yang akhirnya meninggalkan partai dan menjadi calon kepala daerah dari partai lain dan  dia harus masuk menjadi kader partai pengusung," jelas Zainudin.

Ketiga, terkait kelangsungan dari partai dengan ambang batas 4 persen. "Orang tentu berpikir apakah dia berada di partai itu akan bisa lolos kah partai atau tidak. Itu bisa menjadi pertimbangan," katanya.

Keempat, yaitu  dengan sistim proporsional terbuka maka kompetisi sangat terbuka, itu baik antar partai, caleg, maupun internal. "Nah kalo partai yang kira-kira bisa menyiapkan atribut, bendera, kaos, dan sebagainya bisa menjadi pilihan orang," katanya.

Hal senada juga dilontarkan politisi PDIP Eva Kusuma Sundari. Menurut dia, hal yang sangat signifikan menyebabkan orang pindah partai adalah konflik internal partai. "Konflik itu sebagai pemicu utama saya pikir. PDIP pernah mengalami ini dan tapi ternyata kemudian agak mereda," ujar Eva Sundari.

Kemudian menurut Eva juga faktor parlementary threshold (batas ambang parlemen) yang ditetapkan 4 persen. "Ini ada realitas yang diterima ya dari teman yang berada di Komisi 11. Wah saya harus cabut nih mbak karena partainya enggak lolos, aku pindah aja. Banyak yang ke DPD daripada kehilangan kesempatan di Senayan," ungkap Eva.

Ketua Fraksi Hanura di DPR, Inas Nasrullah Zubir mengungkapkan, dari 16 anggota fraksi Hanura yang aktif sekarang, 7 orang bergabung ke kubu Syarifudin Suddin dan memilih menjadi caleg dari partai lain.

"Bagi kita tidak masalah, tapi yang jadi masalah adalah sikap gentlemannya. Kalau mau  menjadi caleg di partai lain harus keluar dulu dari Hanura. Seharusnya mereka buat surat pengunduran diri di fraksi dan baru menjadi caleg partai lain," ujar Inas. 

Reporter: Syafril Amir


Tags Politik

[Ikuti Riaumandiri.id Melalui Sosial Media]





Tulis Komentar