Pilkada

Tommy Sindir KKN Kian Marak, Elektabilitas Berkarya Masih Nol Koma

Tommy Soeharto

RIAUMANDIRI.CO, JAKARTA - Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto berbicara soal KKN yang kini makin marak. Hasil survei Median terbaru menunjukkan, Berkarya berada di posisi relatif buncit dengan perolehan nol koma.

Survei ini dilakukan pada 6 Juli- 15 Juli 2018 dengan jumlah responden sebanyak 1.200 responden yang merupakan warga yang memiliki hak pilih dengan margin of eror sekitar +/- 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. 

Sampel survei dipilih secara random dengan teknik multistage random sampling dan proporsional atas populasi provinsi dan gender. Quality control dilakukan terhadap 20 persen sampel yang ada.

Direktur riset Median, Sudarto mengatakan Partai Berkarya belum memperoleh elektabilitas tinggi karena belum terlalu dikenal publik. Selain itu, sosok Tommy dianggap tidak dapat menggantikan sosok ayahnya, Soeharto yang dikenang publik. 

"Kalau untuk Partai Berkarya memang itu kan partai baru yang belum banyak dikenal publik dan KPU juga masih belum secara resmi memperbolehkan partai-partai untuk berkampanye jadi wajar kalau partai baru elektabilitasnya masih rendah," kata Sudarto kepada wartawan di Jakarta, Senin (23/2/2018).

Elektabilitas Berkarya hanya 0,2 persen. Dengan jumlah ini, diprediksi Berkarya tidak bisa lolos ke DPR pada Pileg 2019. Meski begitu, Sudarto menyampaikan, Berkarya dapat menaikkan elektabilitasnya dengan cara berkampanye dengan mesin partai yang baik.

"Tetapi tidak mustahil itu akan berubah ketika kampanye sudah dimulai karena ketika kampanye sudah mulai maka faktor mesin politik dan mesin partai itu menjadi salah satu pengaruh yang besar," jelasnya.

Sudarto juga menuturkan sosok Tommy Soeharto yang belum terlalu dikenal oleh masyarakat menjadi salah satu penyebab mengapa elektabilitas Berkarya masih 0,2 persen.

"Jadi hari ini yang berpengaruh sama elektabilitas parpol itu semata-mata karena faktor tokoh, pemberitaan dan hari ini kalau kita lihat konstelasi tokoh-tokoh yang muncul itu kan baru sedikit saja tokoh-tokoh kalangan partai baru tampaknya belum muncul intens di media sekali lagi hari ini. Kalau bicara partai baru memang tampaknya masih belum terlalu dikenal publik, sehingga belum banyak dipilih publik," ungkap Sudarto.

Lebih lanjut, dia juga menuturkan karakteristik pemilih Partai Berkarya. Pemilih Berkarya dinilai adalah mereka yang rindu akan sosok Presiden RI ke-2 Soeharto.

"Kalau Partai Berkarya ketika ditanya alasan mereka milih karena mereka rindu Pak Soeharto, karena itu memang hari ini satu-satunya variabel yang kemudian jadi positif Partai Berkarya adalah sosok Pak Harto itu wajar karena dia dikenal luas," jelas Sudarto.

Dalam survei tersebut, berikut urutan 15 partai versi survei Median:

1. PDIP : 26 persen
2. Gerindra : 16,5 persen
3. Golkar: 8,8 persen
4. PKB : 8,7 persen
5. Demokrat : 8,6 persen
6. Perindo : 3,5 persen
7. PAN : 3,4 persen
8. PKS: 3,0 persen
9. PPP : 2,8 persen
10. Nasdem : 2,7 persen
11. Hanura : 0,7 persen
12. PSI : 0,3 persen
13. Berkarya : 0,2 persen
14. PBB : 0,2 persen
15. PKPI : 0,2 persen
Tidak menjawab: 14,4 persen

Sebelumnya, Tommy Soeharto menyentil pemerintahan pascareformasi. Baginya, tidak ada perbaikan dalam pembangunan di Indonesia. Sindiran Tommy mendapat banyak kritikan dari sejumlah partai politik.

"Reformasi janjikan KKN hilang, tapi nyatanya makin parah. Utang luar negeri semakin besar. Investasi asing pun semakin dimanja," kata Tommy, Minggu (22/7).


 


Tags

[Ikuti Riaumandiri.id Melalui Sosial Media]





Tulis Komentar