Ekonomi

Pertamina Kelola Blok Rokan, Markarius Anwar: Segera Realisasikan PI 10 Persen

Anggota Komisi IV DPRD Riau Markarius Anwar.

RIAUMANDIRI.CO, PEKANBARU - Pemerintah telah menetapkan PT Pertamina (Persero) sebagai operator Blok Minyak dan Gas (Migas) Rokan dari 2021 sampai 2041. Sesuai ketentuan yang ada, daerah berhak atas kepemilikan atau Participating Interest (PI) 10 persen pada wilayah kerja minyak dan gas bumi. 

"Kita tuntut agar itu (PI 10 persen, red) segera direalisasikan setelah pengelolaannya di kita," kata anggota Komisi IV DPRD Riau Markarius Anwar.

Selain itu, kata Bendahara DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Riau itu, daerah masih berpeluang untuk ikut bersama-sama mengelola Blok Rokan dengan Pertamina. "Itu yang tuntutan kita juga. Itu tergantung pusat la nanti kan. Tapi itu akan kita tuntut terus," ingat politisi yang akrab disapa Eka itu.

Meski begitu, terkait pola pelibatan daerah dalam mengelola Blok Rokan itu belum dibicarakan dengan pihak Pertamina. Hal itu mengingat, penetapan perusahaan pelat merah itu mengelola Blok Rokan baru saja diputuskan.

"Karena Pertamina kan baru kemarin, keputusannya baru kemarin. Habis ini seharusnya ada komunikasi. Tapi tetap di Kementerian ESDM kuncinya. Tapi dari aturan yang ada, kita wajib mendapatkan itu (PI 10 persen,red). Tinggal menunggu keseriusan kita mengurusnya. Jangan kita terlambat, sementara daerah-daerah lain sudah mendapatkan itu," lanjut Eka.

Adapun pola kerjasama antara Pertamina dengan daerah, sebut Eka, adalah berupa business to business. "Jadi BUMD kita di beberapa bahagian itu bisa bekerjasama dengan Pertamina. Mungkin nanti ada beberapa blok yang bisa kita ikut terlibat di sana," terangnya.

Pola itu, menurutnya, harus berjalan. Pasalnya selama ini, Provinsi Riau kurang mendapatkan porsi yang sesuai dibandingkan produksi migas yang dikeruk. "Terus terang dengan pola yang ada sekarang artinya cukup merugikan kita. Karena sebagai besarnya itu untuk kepentingan nasional. Untuk bahagian Riau kurang terasa," keluhnya.

Tidak hanya itu, Eka juga berharap ke depannya dapat diketahui berapa minyak yang diproduksi. Dengan begitu, dapat dipastikan berapa porsi untuk Provinsi Riau. "Kita di Riau ini tidak tahu tentang berapa sih minyak kita yang keluar. Selama ini kan kita berdasarkan laporan Chevron dan operator yang ada saja. Ke depan, kita mau Pemprov memasang meteran di sumur-sumur itu. Tak apa-apa kita investasi agak besar tapi kita bisa memastikan berapa minyak kita yang keluar," pungkas Markarius Anwar.

Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan, pemerintah menetapkan pengelola Blok Rokan mulai 2021 selama 20 tahun ke depan akan diberikan kepada Pertamina."
"Alhamdulillah, selamat kepada Pertamina yang telah diberi amanat ke pemerintah untuk mengelola Blok Rokan dari 2021 sampai 2041," sebut Arcandra baru-baru ini.

Menurut Arcandra, setelah diserahkan ke Pertamina mulai 2021, perusahaan tersebut akan berbagi hak partisipasi atau PI ke BUMD dengan porsi 10 persen. "Untuk ke depannya selain diserahkan Pertamina, 10 persennya diserahkan hak partisipasi BUMD yang ditunjuk," tutur Arcandra.

Blok Rokan merupakan produsen minyak terbesar di Indonesia dengan cadangan 500 juta sampai 1,5 miliar barel setara minyak, berdasarkan catatan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) produksi minyak siap jual Rokan selama semester pertama 2018 sebesar 771 ribu barel per hari, porsi produksi Rokan mencapai mencapai 207.148 barel.


Reporter: Dodi Ferdian
 




Loading...

[Ikuti Riaumandiri.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar