Hikmah

Orientasi Seks Menyimpang Kian Mengkhawatirkan

Alfira Khairunnisa

Oleh: Alfira Khairunnisa 
Pemerhati Sosial Masyarakat

RIAUMANDIRI.CO - Lagi dan lagi, LGBT kembali menggila, bagaimana tidak? Data dari Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) tahun 2016 menunjukkan bahwa terdapat 15.105 orang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) di Sumatera Barat (Sumbar)

Dinas Sosial (Dinsos) Kota Padang menduga, setidaknya terdapat 15 titik tempat berkumpul komunitas LGBT di Kota Padang (Haluan.com, 7/11/2018)

LGBT saat ini tidak lagi menjadi hal yang tabu. Orientasi seks bermasalah ini kerap menghinggapi generasi, hingga kian menghantui masyarakat. Kian hari LGBT kian merebak dan merusak generasi. Akan jadi apa kelak generasi ini jika virus ini terus menyebar?

Mungkin jika dahulu orang tua merasa lebih khawatir menjaga anak perempuannya, tapi kini sudah berbeda, kini nampaknya orang tua lebih khawatir lagi menjaga anak laki-lakinya.

Bukankah akan lebih sulit bagi orang tua untuk mengidentifikasi anak laki-lakinya yang bergaul dengan sesama teman lelakinya? Yang kemudian tidak diketahui apakah mereka termasuk bagian dari penyuka sesama jenis atau tidak.
 
Data yang ditampilkan dalam rapat bersama dengan membahas kesepakatan untuk menumpas LGBT di Sumbar itu menjelasakan bahwa ada sebanyak 14. 252 LSL (lelaki suka lelaki), dan 853 waria (Haluan.com, 1/11/2018)

Meskipun bukan real data dan hanya estimasi / perkiraan, namun kondisi di lapangan biasanya memang cocok dan mendekati data tersebut.

Faktor-faktor Pria Memilih LGBT

LGBT yang makin merebak sungguh sangat memprihatinkan. Setiap lini masyarakat haruslah dapat berpangku tangan guna mencegah dan mengentaskannya. Namun untuk hal itu perlu diketahui beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya orientasi seks menyimpang tersebut.

Ada beberapa faktor yang membuat para pelaku akhirnya mengambil pilihan untuk menjadi LGBT. Diantaranya, faktor kebutuhan ekonomi dan fantasi adalah alasan bagi para pria menjadi LGBT.

Kebutuhan ekonomi, menjadi faktor para pemuda/pemudi memilih menjadi LGBT. Bagaimana tidak? Gaya hidup hedonis zaman now pelak seakan menuntut hal tersebut harus terpenuhi, hal ini sudah menggrogoti setiap lini hidup masyarakat kapitalisme dewasa ini. 

Sulitnya mencari penghidupan yang layak tentu sangat dirasakan masyarakat lapisan menengah kebawah. Meski tak jarang juga kita dapati LGBT diantara pemuda/pemudi kaya raya.

Faktor selanjutnya adalah fantasi seksual. Fantasi seksual yang tidak wajar dan menyalahi fitrah kerap menghampiri setiap insan yang rentan akan hal ini, mengapa bisa rentan? 

Jawabannya karena mereka kerap berbaur pada lingkungan yang didalamnya bertengger para LGBT. Fantasi seks yang menyimpang ini harus dapat dihindari sekuat dan semampunya, dengan dibarengi dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar. Terutama Negara.

Faktor yang terakhir adalah korban. Bahwa pelaku orientasi seks menyimpang ini adalah korban dari pelaku sebelumnya yang sudah menebar virus kepada korba. Perlu diketahui bahwa orientasi seks menyimpang ini bersifat menular. 

LGBT Jalan Perusakan Akidah Umat Islam

Maraknya LGBT yang tengah hadir di tengah-tengah masyarakat dewasa ini adalah sebagai jalan perusakan Aqidah  Akhlak umat Islam, terutama sebagai sarana efektif penghancuran generasi Muslim masa depan. 

Adapun ide dasar LGBT ini adalah dari paham Liberalisme yang harus ditolak. Bukankah hal ini menyalahi fitrah manusia? Seharusnya manusia dapat menyalurkan dan memenuhi kebutuhan biologisnya sesuai dengan fitrahnya, yaitu dengan lawan jenis dan dengan jalan yang dibenarkan Allah, bukan jalan yang menyimpang.

Dalam hal ini para ulama bersepakat (Al-Ijma’) atas keharaman orientasi seks menyimpang ini, sebagaimana hal ini disebutkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah :

“Ulama bersepakat atas keharaman sodomi (liwath). Allah Ta’ala telah mencelanya dalam Kitab-Nya dan mencela pelakunya, demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mencelanya”

Dalam QS. Al-A'raaf:81 juga ditegaskan "Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, maka kalian ini adalah kaum yang melampaui batas. 

Sistem Islam Solusi Tuntas LGBT

Adapun solusi tuntas bagi persoalan LGBT tidak lain adalah diawali dengan penanaman akidah bagi setiap individu. Hal ini harus melalui peran negara yang dapat menanamkan akidah yang kokoh kepada segenap lapisan masyarakat, dengan berbagai cara efektif, termasuk rohis di sekolah-sekolah harus dapat ditumbuh suburkan dan diaktifkan.

Penanaman akidah dan ketakwaan individu sangat berpengaruh terhadap hal ini. Maka sudah seharusnya kerohanian Islam diaktifkan disetiap sekolah dan lembaga pendidikan, bukannya dicurigai dan diawasi bahkan dikriminalisasi.

Rohis dan kajian-kajian di tengah-tengah masyarakat sangat berpengaruh bagi pemikiran dan pemahaman serta pola sikap, baik pelaku LGBT ataupun tidak, agar mereka menjadi terbina dan lebih baik. 

Masyarakat akan senantiasa dibina dengan pemahaman keagamaan yang akan makin mendekatkan setiap individu kepada penciptanya, tentunya dengan pembinaan yang intensif yang berkesinambungan.

Negara juga harus dapat memberi sanksi tegas bagi para pelakunya. Syariat Islam mengatur bahwa sanksi bagi pelaku LGBT adalah dijatuhkan dari tempat yang tinggi dengan posisi kepala di bawah. 

Namun dalam kapitalisme tidak ada sanksi yang jelas pada pelaku seks menyimpang ini, sehingga tidak memberikan efek jera, malah yang ada makin tumbuh suburlah kaum ini di tengah-tengah masyarakat.

Negara juga harus tegas menolak keberadaan LGBT, karena jelas-jelas menyalahi aturan Islam dan mengundang Murka Allah. 

Tidakkah kita belajar dari peristiwa kaum Nabi Luth? Kaumnya diadzab oleh Allah tersebab prilaku seks yang menyimpang. Tidak cukupkah bencana demi bencana datang silih berganti merudung Negeri ini? 

Sebagaimana kita ketahui, gempa, tsunami, gunung meletus dan berbagai bencana lain yang menimpa Negeri ini adalah pertanda teguran dari Allah sang pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. 

Allah tengah murka melihat para hambanya yang sudah jauh dari aturan-aturannya, banyak sudah yang tidak lagi menjalankan perintahnya, serta mencampakkan hukum-hukumnya. Tidakkah kita berfikir?

Maka dari itu, hendaklah negara dan masyarakat negeri ini dengan tegas menolak LGBT dan hadlarah (peradaban) barat lainnya yang merusak, bukan melegalkan dan membiarkannya tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat. 

Sudah saatnya kaum muslimin dan segenap pemerintah dan penguasa kembali kepada aturan Allah SWT. Sungguh tidaklah akan merugi orang-orang yang senantiasa berpegang teguh kepada tali Agama Allah. Maka katakan TIDAK kepada LGBT.


Tags

[Ikuti Riaumandiri.id Melalui Sosial Media]





Tulis Komentar