Politik

Fahri Hamzah di Mata Arteria Dahlan

Fahri Hamzah

RIAUMANDIRI.CO, JAKARTA - Pada tanggal 30 September 2019, berakhir sudah masa kerja DPR RI periode 2014-2019. Seiiring dengan itu, berakhir pulalah jabatan Wakil Ketua DPR yang disandang Fahri Hamzah selama lima tahun ini.  

Bahkan, Fahri Hamzah bukan hanya melepaskan jabatan Wakil Ketua DPR yang mewakili Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), tapi juga akan meninggalkan Senayan karena dia tidak maju menjadi calon legislatif (caleg) pada Pemilu 2019 lalu.

Publik tahu, bagaimana kiprah Fahri Hamzah selama menjadi Wakil Ketua DPR. Ada yang memuji dan tentu adalah pula tak suka dengan gaya politisi dari NTB itu. Dia legislator yang sering melontarkan kritik yang pedas terhadap pemerintah, namun kritikannya itu konstruktif.

Bahkan pujian itu datang dari politisi muda dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Arteria Dahlan. Dia menilai kritikan yang disampaikan Fahri selama ini, baik yang disampaikan secara langsung maupun lewat tulisan dibuku-buku yang ditulis, memetakan masalah bangsa dengan jernih.

"Kritiknya lugas terhadap berbagai produk kebijakan pemerintah termasuk kritik kerasnya terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Parlemen masa depan kehilangan Fahri yang kritis dan lugas. Ia sosok yang cerdas," ujar Arteria Dahlan disela-sela peluncuran 2 buka karya Fahri Hamzah berjudul 'Arah Baru Pemberantasan Korupsi' dan 'Daulat Rakyat' di Media Center DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (27/9/2019). 

Dua buku yang ditulis Fahri, lanjut Arteria, begitu detail dan luar biasa. Tidak saja mengulas bagaimana idealnya memberantas korupsi, tapi juga mengulas masa-masa transisi pemerintahan hingga reformasi secara jelas. Buku tersebut sekaligus merefleksikan betapa Fahri mengenal masalah kebangsaan dengan baik.

"Bagi saya, Fahri adalah role model, bagaimana seorang politisi yang ideal. Sering kali saya katakan etalase Parlemen harus diisi oleh orang-orang seperti Bang Fahri. Jujur mungkin kita semua kehilangan. Harusnya sosok Fahri selalu hadir di Parlemen dan pada periode ke depan kita tidak bertemu lagi,” kata Arteria.

Menurut Arteria, kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional Fahri di atas rata-rata anggota DPR sekarang ini. Fahri dinilai pendengar yang baik, pengamat yang baik, dan pemerhati yang baik.

"Biasanya orang pinter itu enggak mau dengar orang lain. Dan Bang Fahri masih mau mendengar. Ini jadi pembelajaran bagi kita semua. Fahri berani menyatakan yang benar. Berani untuk tidak populer. Kalau bangsa ini punya banyak Bang Fahri, Pak Jokowi enggak kerepotan,” pujinya, disambut tawa dan tepuk tangan yang hadir.

Menurut Arteria, Presiden Jokowi dikelilingi orang-orang yang tidak berani mengambil kebijakan yang tidak populer. Mereka, nilai Arteria lagi, selalu ingin tampil cantik dengan jabatan dan keputusannya. Itulah mengapa Presiden Jokowi seperti bekerja sendiri dan selalu gamang. Padahal, punya banyak pasukan.

“Fahri orang yang mengenal masalah. Beliau mampu menjelaskan secara terstruktur dan jelas, karena dia punya logika berpikir yang baik. Ini smeua tercermin dalam bukunya. Kalau kita baca buku ini, bagaimana Bang Fahri bisa ngupas semua. Adik-adik mahasiswa harus belajar dan mau membaca,” ujarnya.

Reporter: Syafril Amir


Tags Politik

[Ikuti Riaumandiri.id Melalui Sosial Media]





Tulis Komentar