Gagasan

Tamatnya Era Produk dan Beralih ke Sistem Platform

Oleh: DR. Irvandi Gustari, MBA
(Akademisi & Praktisi Bisnis)

RIAUMANDIRI.ID - Era Produk memang semakin terpojok pada era disrupsi ini. Pada era platform merupakan suatu struktur yang dijalani sekaligus dalam bentuk paket yang dapat mempertemukan beragam kebutuhan. Contoh konkrit dan bisa dilihat secara nyata itu, Gojek itu menerapkan sistem platform.

Platform itu memang berbasiskan teknologi yang selalu melahirkan multisided dan mengandalkan kedahsyatan “network effect”.  Dalam sistem ‘network effect”, tidak lagi sekedar adanya hubungan “supply & demand” secara satu per satu, melainkan  terwujudnya sistem kolaborasi dalam banyak hal dan uniknya hal itu terjadi dalam waktu yang bersamaan. Hal itu bisa kita bayangkan seseorang yang ingin berbisnis perhotelan, tidak perlu harus punya gedung hotel secara fisik dan tidak perlu harus ikut jaringan hotel internasional seperti jaringan intercontinental, jaringan Accord, dan lainnya, namun cukup membuat platform seperti yang dilakukan Airbnb.

Dalam sistem platform yang muncul pada era disrupsi ini, juga telah merubah mindset kita dari “boundary world”, beralih kepada “There’s jus one world now”. Walaupun sistem platform ini yang dipakai oleh para pebisnis start up saat ini seperti Grab, Traveloka, Gojek, Tokopedia, Alibaba, Amazon, juga pernah diuji kesaktiannya pada saat Presiden Amerika Serikat (AS) – Donald Trump memberlakukan perang dagang terhadap China melalui pemberlakuan kenaikan tarif bea masuk untuk produk China yang masuk ke AS.

Namun kenyataannya, sistem platform tidak bisa tergoyangkan walaupun ada perang dagang tersebut. Terbukti sistem platform tetap eksis dan bahkan berbagai macam inovasi bermunculan untuk memberikan kemudahan pada semua pihak (supplier, buyer, segala ekosistemnya ) sehingga terasa bahwa  dunia ini sudah tidak ada lagi kedaulatan, dan sudah menjadi satu negara.

Ya memang sistem platform telah menjadikan segala sesuatunya menjadi mungkin atau bisa. Dalam sistem platform terdapat banyak kelebihan: 1) Untuk berbisnis tidak perlu dukungan asset, 2) Yang selama ini mengandalakan kekuatan skala ekonomis, sekarang mengandalkan network effect, 3) Tidak perlu pusing untuk menguasai supply chain, sebab dalam platform sudah tersedia jejaring secara sistematis, 4) Value Creation akan tercipta karena adanya network effect, dan memudahkan para stakeholders, 5) Tidak menjual produk secara arafiah, namun esensinya adalah mempertemukan “supply & demand” dalam suatu system yang berbentuk aplikasi, dengan segala kebutuhan.

Mungkin kita pernah mendengar istilah “Omni Marketing”, yang menggabungkan atau mengkombinasikan antara “marketing online” dan “marketing offline” sebagai jawaban untuk solusi di era digital. Yang banyak sesat adalah banyak pihak yang menjual dagangannya yang selama ini secara tradisional dengan adanya toko (offline marketing) dan untuk menjawab era digital, maka dilengkapi dengan online marketing, dan dibentuklah  e-commerce yaitu melalui penjualan online berbasiskan web. Ternyata gagal, sebab yang dijual adalah satu produk yang terbatas pada produk yang dimiliki oleh perusahaan penjual produk. Contoh pada Omni Marketing tersebut tentu berbeda dengan perusahaan yang berbentuk platform.

Dalam era platform, tentunya para jagoan kuliner yang terkenal selama ini seperti: Rumah Makan Sederhana, Pizza Hut, Bakmi Gajah Mada, Bakso Lapangan Tembak, Starbucks, disajikan secara lengkap dan cepat oleh perusahaan platform dan armada pelayanan yang tersebar dimana-mana tentu secara cepat pula men “deliver” kannya. Tambah lagi sistem pembayarannya pun sudah ada dalam platform itu sendiri dan bahkan menjadi sistem pembayaran tersendiri pula pada platform tersebut. Contoh yang terlihat secara gamblang kesemuanya itu bisa kita lihat pada Gojek yang juga menerapkan Gopay. Contoh yang sukses lainnya pada tetracorn kelas dunia seperti Alibaba yang memiliki Alipay, dan Amazon yang mengandalkan Amazon Pay

Lalu bagaimana dengan nasib perusahaan yang tidak berbasiskan platform di era disrupsi ini? Memang tidak semua perusahaan harus berbentuk platform. Namun yang paling penting bahwa perubahan itu tidak bisa dielakkan, dan bila kita ingkari perubahan itu, maka perubahan itu yang menggilas kita. **




Loading...

[Ikuti Riaumandiri.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar