Napak Tilas Proses Terbentuknya Migas

Perjalanan Geologi dengan SKK Migas dan Chevron ke Sumatera Barat

Perjalanan Geologi dengan SKK Migas dan Chevron ke Sumatera Barat

RIAUMANDIRI.ID, PEKANBARU – Geologi minyak Bumi, adalah salah-satu cabang ilmu geologi untuk mengetahui keberadaan minyak Bumi di bawah tanah kemudian mengeksplorasi dan memproduksinya. Secara umum ada dua jenis geologi minyak Bumi, yaitu geologi eksplorasi minyak Bumi yang mencakup pencarian minyak Bumi dan geologi produksi minyak Bumi. 

Produksi minyak Bumi dalam bidang perminyakan bukan diartikan untuk membuat minyak Bumi, tetapi hanyalah membuat fasilitas untuk mengalirkan minyak Bumi dari bawah tanah ke atas permukaan tanah, dengan menggunakan pemboran dan pompa-pompa.

Minyak bumi, tersusun dari senyawa hidrokarbon yang berbeda-beda. Perbedaan ini tergantung dari faktor umur, suhu pembentukan dan cara pembentukannya. Senyawa hidrokarbon yang paling banyak ditemukan biasanya, adalah Alkana. Tetapi ada juga senyawa lainnya, seperti Sikloalkana dan Hidrokarbon Aromatik. Di dalam minyak bumi juga terdapat unsur kimia lainnya, seperti Sulfur, oksigen, nitrogen, dan unsur logam. 

Minyak bumi atau bahasa latinnya ‘Petroleum‘ ini sering disebut dengan emas hitam. Sebab, tertimbun di bawah tanah dan memiliki harga yang cukup mahal jika dipasarkan. Minyak bumi ini sering diolah menjadi bahan bakan yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari manusia.

Beruntungnya Provinsi Riau memiliki sumber daya alam migas tersebut, sehingga perlu dijaga dan ditelusuri bagaimana sejarahnya, agar rasa cinta terhadap negeri yang konon katanya 'Di atas minyak, di bawah minyak ini' semakin tinggi dan memunculkan rasa cinta kepada Sang Pencipta.

Perjalanan menelurusi migas tak lepas dari beberapa jenis batuan. Untuk itulah SKK Migas-PT Chevron Pacific Indonesia menggelar acara Geology Trip bersama 14 jurnalis dari berbagai media di Provinsi Riau. 

Napak tilas dimulai dari Bangkinang, Kabupaten Kampar hingga ke beberapa lokasi di Sumatera Barat. Sepanjang perjalanan indah ini, penjelasan detail disuguhkan Earth Scientist PT Chevron Agus Susianto.

Tujuannya, adalah memberikan bekal ilmu tentang bagaimana proses terbentuknya migas sehingga menambah khasanah jurnalis dalam berfikir pastinya. 

Formasi Petani di Bangkinang

Pengetahuan pertama bagi jurnalis, adalah Formasi Petani yang berada di wilayah sebelah timur dari antiklin Bangkinang ini berumur Miocene hingga Pliocene berfungsi sebagai analog dari Formasi Petani yang ada di bawah permukaan yang berfungsi sebagai timbunan dan juga sebagai batuan tudung dari sistem hidrokarbon di Cekungan Sumatera Tengah. 

Dalam ilmu geologi, formasi petani karena dulunya di teliti dan ditemukan di sekitar wilayah penduduk pertanian. Sementara formasi berada di kawasan timur anticlinne Bangkinang  ini. Namun, sahle anticline seperti ini bisa banyak ditemukan di Sumatera tengah dan juga di tempat lainnya,.

Sedangkan Shale mengacu pada batuan sedimen klastik berbutir halus, berlapis, yang kaya akan bahan organik. Shale gas, adalah gas alam yang terperangkap di dalam formasi shale karena karakteristik kedap shale sehingga kami membutuhkan fraktur untuk memberikan permeabilitas yang dapat dibuat secara alami atau buatan. 

Menurut studi Cekungan Sumatera Tengah diikat ke barat daya oleh pengangkatan geanticlinal Pegunungan Barisan dan busur vulkanik, ke utara oleh busur Asahan, ke tenggara oleh ketinggian Tigapuluh, dan ke timur oleh kraton Sunda. 

PLTA Kotopanjang Basemen Greywacke

Singkapan Basemen greywacke, adalah salah-satu contoh singkapan basemen atau batuan dasar dicekungan Sumatra Tengah yang berfungsi sebagai alas cekungan. Batuan ini berumur Karbon hingga Permian. Batuan ini berasal dari Gondwana Landyakni dulu pada saat batuan terbentuk masih menyatu dengan benua Australia. Batuan ini kemudian bergerak ke daerah katulistiwa pada umur Jurassic hingga Cretaceous.

Ini, adalah batuan sedimen yang belum matang secara tekstur yang umumnya ditemukan di lapisan Paleozoikum. Butir yang lebih besar dapat berukuran pasir hingga kerikil dan material matriks umumnya merupakan lebih dari 15% volume. Istilah "greywacke" dapat membingungkan. Karena, dapat merujuk pada aspek batu yang belum matang (fragmen batuan) atau komponen butiran halus (tanah liat). Konon, batu ini berasal dari Australia. 
"Induknya ada di Australia, oleh karena pergeseran bumi, maka beberapa bagian sampai di Sumatera," ujar Agus.

Greywacke sebagian besar berwarna abu-abu, coklat, kuning atau hitam, batu pasir berwarna kusam yang dapat terjadi di lapisan tebal atau tipis bersama dengan serpih dan batu kapur. Mereka berlimpah di Wales, selatan Skotlandia, Longford Massif di Irlandia dan Taman Nasional Distrik Danau Inggris mereka menyusun sebagian besar pegunungan Alpen utama yang membentuk tulang punggung Selandia Baru; batupasir yang diklasifikasikan sebagai greywacke feldspathic dan lithic telah diakui di Ecca Group di Afrika Selatan.  

Mereka dapat mengandung berbagai macam mineral yang sangat besar, yang utama adalah kuarsa, orthoclase dan feldspar plagioklas, kalsit, oksida besi dan grafit, hal-hal berkarbon, bersama-sama dengan (dalam jenis kasar) fragmen batuan seperti felsite, chert, slate, gneiss, berbagai sekis, dan kuarsit. Di antara mineral lain yang ditemukan di dalamnya adalah biotit, klorit, turmalin, epidote, apatit, garnet, hornblende, augit, sphene, dan pirit. Bahan penyemenan dapat berupa silika atau argil dan kadang-kadang berkapur.

Tanjung Balit

Berkunjung ke Tanjung Balit terdapat Grup Sihapas, yakni Singkapan batuan Grup Sihapas adalah salah satu contoh singkapan Sihapas yang muncul di permukaan. Grup Sihapas ini terdiri-dari gabungan kelompok formasi batuan sedimen yang diendapkan pada umur Awal Miocene di lingkungan laut dangkal yang didominasi oleh lapisan lapisan batupasir kuarsa berukuran halus hingga kasar.

Singkapan di Lembah Harau

Nah sampai di lokasi Lembah Harau, jurnalis lebih antusias dengan pemandangan formasi batu-batu raksasa yang bermotif garis tegak kurus vertikal.Diperkiarakan  diendapkan pada Umur Eocene. Formasi ini ditafsirkan sebagai unit batuan sedimen alluvial fan dan fan delta yang masuk ke dalam sebuah danau di cekungan Payakumbuh hingga Ombilin. 

Singkapan ini diduga memiliki kemiripan dengan formasi Lower Red Bed yang berada di Cekungan Sumatera Tengah di Riau. Batupasir dari formasi Brani mungkin bisa berfungsi sebagai reservoar.

Perjalanan penelusuran bebatuan makin menarik ketika jurnalis di bawa ke Lembah Harau. Keindahan Lembah Harau banyak terjawab dari perjalanan ini. Kenapa bentuk dinding bukitnya yang bergaris-garis vertikal dan ada yang horizontal. Kenapa gugusan motifnya berbeda-beda dan ada yang sama.

Lembah Harau terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Lembah Harau berjarak 138 km dari Padang dan 47 km dari Bukit Tinggi. Suhu rata-rata daerah ini lumayan sejuk. Topografi Cagar Alam Harau, adalah berbukit-bukit dan bergelombang. Tinggi dari permukaan laut adalah 500 sampai 850 meter, bukit tersebut antara lain adalah Bukit Air Putih, Bukit Jambu, Bukit Singkarak dan Bukit Tarantang. 

Di lokasi ini bisa menyaksikan tebing-tebing yang menjulang tinggi dan lembah datar. Tebing-tebing ini tegak dengan kokohnya mengelilingi lembah. Lembah Harau terbentuk akibat adanya proses pengangkatan juga diiringi proses erosi hingga membentuk suatu bentang yang khas. 

Adanya proses pengangkatan ini dapat ditelusuri dengan melihat batuan penyusun tebing. Tebing-tebing di Harau ini tersusun atas endapan dataran rendah namun sekarang telah menjadi bukit yang menjulang tinggi. Selain itu ditemukan juga batuan yang mengandung fosil lingkungan laut yang menunjukkan bahwa dahulu daerah ini ada di lingkungan laut.

Gaya eksogen juga berpengaruh signifikan terhadap pembentukan bentang alam Lembah Harau ini. Batuan yang menyusun Lembah Harau tidak semuanya batuan yang tahan terhadap erosi. Batuan yang lemah ini cenderung lebih cepat terkikis dibandingkan dengan batuan yang resisten. Akibatnya tersisalah batuan yang resisten menjadi tebing-tebing terjal ini. 

Menurut Agus, bukti air terjun bukti adanya banyak patahan yakni adanya  air terjun (terdapat tujuh air terjun di Lembah Harau diaantaranya Air Terjun Aka Barayun, Sarasah Donat, Sarasah Boenta, Sarasah Talang, Sarasah Murai) Ketinggian masing-masing air terjun berbeda-beda antara 50-90 meter. 

Air terjun tersebut mengalir dari atas jurang yang membentang di sepanjang Lembah Harau. Terbentuknya lembah harau dikarenakan adanya patahan turun atau block yang turun membentuk lembah yang cukup luas dan datar. Salah satu tanda-tanda atau untuk melihat dimana lokasi patahannya adalah dengan adanya air terjun. 

"Ini artinya dahulu ada sungai yang kemudian terpotong akibat adanya patahan turun, sehingga membentuk air terjun. Secara geologi, batuan yang ada disitu berumur cukup tua, kira-kira 30-40 juta tahun. Batuan seumur ini yang sangat halus berupa serpih (besar butir lebih kecil dari pasir 1/16 mm) yang merupakan batuan yang banyak mengandung organic carbon, yaitu batuan yang terbentuk dari sisa-sisa organisme," tuturnya.

Survei Tim Geologi Jerman (Barat) yang meneliti jenis bebatuan yang terdapat di Lembah Harau pada tahun 1980. Dari hasil survei, tim tersebut dapat diketahui, batuan yang ada di perbukitan Lembah Harau adalah batuan Breksi dan Konglomerat yang merupakan jenis bebatuan yang umumnya terdapat di dasar laut.

Proses geologi ini mengantarkan kita kepada bentang alam Lembah Harau yang mempesona. Kolaborasi bukit terjal dan lembah juga ditambah dengan air terjun di beberapa tempat menjadikan Lembah Harau sebagai salah satu warisan geologi spesial di Sumatera.

Selanjutnya di hari kedua, Sabtu (7/12), penelusuran dilanjutkan ke Padang Gantiang Granite, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Di lokasi ini rombongan melihat hamparan batu granite yang sudah lapuk. Batu granite ini sudah lapuk dan di bagian dalam bisa saja masih muda serta bisa digunakan untuk pembuatan granite yang ditemui di pasaran. 

"Jadi di lokasi ini nilai ekonominya tinggi," jelas jebolan Geologi Universitas Gajahmada ini lagi sambil menunjukan batunya.

Tak berapa jauh dari gerbang Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, rombongan Geology Trip juga diajak melihat Chevron Fold. Yakni, formasi batuan yang terlipat dengan tajam persis seperti logo perusahaan Chevron. Di lokasi ini terlihat batuan terlipat hingga membentuk sudut 60 derajat dan berputar lagi seperti membentuk pola zigzag.

Pembentukan Batu Bara

Rombongan juga diajak mengunjungi bekas tambang Batu Bara Loebang Mbah Soero di Kota Sawahluto. di tempat ini Agus Susianto memaparkan, proses pembentukan batu bara dan mineral lainnya. Seperti, emas, tembaga dan lain sebagainya. Sungguh kaya sekali negeri ini yang selama ini barangkali jika berkunjung ke Sumbar sama sekali tak terfikirkan soal ini.

Perjalan kemudian dilanjutkan menuju Puncak Arifan. Dari tempat ini terlihat jelas hamparan Danau Singkarak di areal lembah yang sangat luas dan indah ini. Di atas ketinggian ini, Agus menjelaskan proses pembentukan danau Singkarak itu.

"Danau Singkarak terbentuk akibat proses tektonik akibat pergeseran dua lempeng yang gerakannya saling berlawanan. Sehingga, membentuk cekungan berupa danau yang kita kenal saat ini. Pergeseran ini berlangsung sangat lama dan memakan waktu hingga jutaan tahun," jelasnya.

Di hari terakhir, Minggu (8/12), rombongan Geology Trip mengunjungi Ngarai Sianok di Sumatera Barat. Ini, adalah sebuah lembah yang terbentuk akibat letusan Gunung Manijau jutaan tahun lalu. Lembah-lembah yang terbentuk akibat erosi oleh air yang berlangsung secara terus menerus selama jutaan tahun.

"Lembah yang sangat indah ini awalnya, adalah bukit tumpukan abu vukanis. Lembah-lembah yang ada terbentuk akibat goresan air yang berlangsung secara terus menerus," ujar Agus Susianto menutup presentasinya sambil memutar sebuah video yang menggambarkan bagaimana pula Sumatera terbentuk.

Dikatakan Manager Corporate communication PT CPI Sonitha Poernomo di akhir kegiatan, dia sangat mengapresiasi para peserta Geology Trip yang sangat antusias menyimak pemaparan Tim Geologi Chevron selama perjalanan. 

"Semoga apa yang disampaikan Pak Agus dan tim dapat memberikan gambaran seperti apa proses terbentuknya minyak bumi dan bagaiman kondisi di dalam perut bumi yang tentu saja tak bisa kita lihat langsung di lokasi pengeboran minyak," harap Sonitha.

Dalam rombongan ini juga ikut, Media & Communication Specialist Chevron Tiva Permata, Yulia Rintawati, Government Relations Chevron Indrika Sriyatini, Team Manager AD South Optimization Chevron Minas Irdas Muswar dan Eart Scientist Chevron  Agus Susianto serta Azarico Putra dan dari SKK Migas Tito serta Anggi ikut mendampingi.

 

Kontributor: Erma Sri Melyati


Tags Ekonomi

[Ikuti Riaumandiri.id Melalui Sosial Media]





Tulis Komentar