Riau

UPT Museum Sang Nila Utama Gelar Workshop Seni Tari dan Musik

Pemukulan Kompang tanda dibukanya worshop seni tari dan musik

RIAUMANDIRI.ID, JAKARTA – Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Kebudayaan memberikan pelatihan terhadap pelaku seni budaya tari dan musik, setelah Riau mendapatkan pengakuan dan menerima 41 sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Salah satunya dengan mengadakan workshop seni taman budaya oleh UPT Museum Sang Nila Utama dan Taman Budaya.

Kepala Dinas Kebudayaan, Raja Yoserizal Zein mengatakan, workshop ini langsung mendatangkan narasumber yang sudah berpengalaman dalam bidang seni. Untuk seni tari Martinus Marito, dari Yogyakarta dan untuk seni musik di datangkan dari Jakarta, Armen Suwandi. Workshop ini mengambil tema, dari pelatihan seni tradisi menjadi karya kekinian yang berpijak pada karya budaya Melayu Riau.

“Kegiatan ini sebagai wujud kepedulian budaya Riau. Dan dari modul baru yang diberikan oleh narasumber ini harus ada bagaimana menggarap seni secara instan, tapi tetap ada akar rumputnya puncaknya kearifan lokal yang ada di Riau. Nanti apa yang di latih semua bersumber karya budaya pengakuan WBTB Indonesia, sesuai dengan undang-undang Kebudayaan wajib membudayanya WBTB sudah mendapatkan 41 warisan, tinggal mengembangkan,” ujar Raja Yoserizal Zein, saat menyampaikan sambutan, Rabu (18/12/2019) didampingi ketua panitia Irfan dan Asmiati. 

Dijelaskan Yose, dengan telah ditetapkannya 41 WBTB Riau menjadi WBTB Nasional, tentunya menjadi tanggungjawab Riau dalam mempertahankannya. Jangan sampai ketika sudah mendapatkan serifikat, selanjutnya dicabut kembali oleh pemerintah pusat karena tidak ada pembinaan. Pemprov menurutnya, tetap berkomitmen mempertahankan WBTB Riau ini, bahkan akan menambahnya. 

“Kita akan terus melakukan pembinaan jangan sampai tidak ada pembinaan karya budaya. Karena sertifikat akan dicabut jika tidak ada pembinaan, ini menjadi  jati diri dan Marwah Riau. Tentu diharapkan dengan pelatihan ini daerah juga bisa mempertahankannya WBTB dan mengembangkannya di daerah,” ungkap Plt Kadis Pariwisata ini.

Sementara itu, salah seorang narasumber, Martinus Miroto menjelaskan, apa yang menjadi keinginan dari Riau mengembangkan seni budaya Melayu, akan dijalankannya dengan apa yang telah di miliki. Dan ia menjelaskan bahwa seni tari di daerah akan menjadi produksi karya daerah. 

“Memproduksi karya tari baru berbasis tradisi termasuk Riau, bahkan orientasi ini lagi di gemari di Jepang. Terlepas dari materi yang akan dilakukan seni tari yang perlu dikembangkan dan di lestarikan, dengan memiliki pemikiran yang logis,” jelasnya. 

Miroto menjelaskan bahwa, seni tari ini sudah rial jual kajian oleh negara-negara Eropa. Dari seni tari ini akak menajdikan anak-anak akan lebih meningkatkan kemampuan dalam belajar. Untuk itu perlu pengembangan seni tari ke masyarakat, terutama kepada anak-anak yang memiliki kemampuan. 

“Seni tari bisa memberikan Motifasi Dan saat ini dunia tari perlu dikembangkan. Anak anak yang memilik seni tari memiliki sifat belajar lebih tinggi daripada yang tidak punya seni tari. Ini dari penelitian dari negara Jerman, dari anak anak latihan menari punya motifasi tinggi untuk belajar. Bukan hanya untuk menari tapi mengembangkan kemampuan otak kita,” jelasnya.

Workshop seni tari dan musik ini, diikuti sebanyak 24 peserta dari 12 Kabupaten Kota. Masing-masing daerah mengirimkan dua orang peserta dengan keahliannya. Dan selama lima hari 18-22 Desember akan mendapatkan pelatihan dari narasumber dengan durasi 40 jam.


Reporter: Nurmadi



[Ikuti Riaumandiri.id Melalui Sosial Media]





Tulis Komentar