Ekonomi

Masih Ada Mafia Beras 'Hinggapi' Bansos Pemerintah

Bulog Budi Waseso (Net)

RIAUMANDIRI.ID, JAKARTA – Perum Bulog masih menyimpan stok beras sebanyak 1,7 juta ton per hari ini. Dengan jumlah pasokan tersebut, Direktur Utama (Dirut) Bulog Budi Waseso (Buwas) memastikan pasokan beras aman.

Namun, ia mengungkapkan, meski pasokan beras cukup belum tentu aman dari mafia beras.

"Belum tentu aman dari mafia. Karena mafia mencari peluang terus," ungkap Buwas dalam peresmian kedai Jenderal Kopi Nusantara di kantor pusat Bulog, Jakarta, Rabu (19/2/2020).

Salah satu celah yang dimanfaatkan mafia beras, kata Buwas, yakni program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

"Dalam program-program BPNT misalnya. Itu kan dimanfaatkan kelompok mafia," tutur Buwas.

Sebelumnya, Buwas mengatakan, modus yang digunakan mafia beras dalam program BPNT yakni menyamar sebagai penyalur BPNT atau e-warong palsu. Dalam penindaklanjutan mafia di program BPNT, Buwas bekerja sama dengan Satgas Pangan. Ketika ditanyakan hasil investigasinya, Buwas enggan menjawab.

"Itu (mafia) terserah Satgas Pangan mau diapakan," imbuh mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) tersebut.

Sebelumnya, Buwas pernah mengungkapkan ada 300 lebih e-warong siluman atau palsu yang beredar di seluruh Indonesia. E-warong tersebut merupakan penyalur BPNT yang terdaftar di Kementerian Sosial (Kemensos).

Buwas mengatakan, dari temuan tersebut, di antaranya ada yang juga membuka usaha tambal ban namun juga berkedok e-warong.

"Ternyata e-warong ini tidak terdata, ternyata tambal ban. Itu saya telisik sudah 300 lebih, yang menemukan tim saya, tapi tim saya tidak hanya Bulog, rahasia. Kalau hanya tim dari Bulog kan tidak bisa 100% dipercaya," kata Buwas dalam konferensi pers temuan BPNT, di Gedung Bulog, Jakarta, Senin (23/9/2019).

Ia memaparkan, saat ini ada sekitar 3.000 e-warong yang ada di seluruh Indonesia. Artinya, ada sekitar 10% dari e-warong tersebut yang merupakan e-warong 'siluman'.

E-warong siluman tersebutlah yang menurut Buwas melakukan aksi penyelewengan dari penyaluran BPNT. Perlu diketahui, penyelewengan ini dilakukan dengan menggunakan karung beras Bulog palsu dan diisi dengan beras medium. Padahal, beras yang disalurkan Bulog ke BPNT merupakan beras berkualitas premium.


Tags Ekonomi

[Ikuti Riaumandiri.id Melalui Sosial Media]





Tulis Komentar