Ekonomi

Nasib Bisnis Kue Lebaran di Tengah Wabah Corona

Wabah virus corona ikut menekan bisnis kue kering jelang lebaran. (CNN Indonesia/Hesti Rika).

RIAUMANDIRI.ID, JAKARTA - Pandemi virus corona rupanya tak hanya membayangi kesehatan masyarakat, namun juga kantong pendapatan usaha kecil dan menengah, misalnya bisnis kue kering jelang lebaran. Padahal, lini bisnis ini biasanya menoreh cuan (untung) ketika Ramadan datang.

Amalia (50 tahun), ibu rumah tangga yang biasa menjual kue kering jelang lebaran mengaku pesimis dengan omzetnya di Ramadan kali ini. Sebab, belum ada tanda-tanda pesanan pada hari pertama puasa.

"Biasanya sebelum Ramadan, sudah saya sebar price list-nya ke teman-teman dan sudah ada yang mulai pesan, sekarang belum ada," ungkap Amalia kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (25/4/2020).

Ia mengaku tak tahu pasti mengapa belum ada pesanan kue kering yang datang kepadanya. Namun, ia menduga mungkin karena perekonomian memang tengah lesu di tengah pandemi corona.

Selain itu, biasanya, ia menerima pesanan dari perusahaan tempat temannya bekerja sekitar 20-30 toples sebagai isi parsel lebaran kepada karyawan. Nyatanya, orderannya kali ini tidak akan ada karena perkantoran tutup.

"Dua tahun terakhir ada juga pesanan teman yang jumlahnya agak banyak untuk sesama teman kantor, tapi kan sekarang tidak masuk kerja, WFH, mungkin karena itu juga," katanya.

Amalia yang sudah sekitar lima tahun berbisnis kue kering lebaran mengatakan omzet penjualan setidaknya bisa mencapai Rp6,5 juta sampai Rp7,5 juta saat Ramadan. Omzet ini didapat dari kue kering yang dibanderol Rp65 ribu sampai Rp90 ribu per toples.

Baginya, omzet ini setidaknya sudah cukup untuk tambahan pengeluaran di momen lebaran. Misalnya, untuk memberi Tunjangan Hari Raya (THR) kepada asisten rumah tangga yang kerap membantunya membuat kue hingga THR kepada keponakannya.

"Ya awalnya memang karena hobi dan iseng cari tambahan saja untuk lebaran, di luar lebaran saya tidak jualan. Tapi kan seharusnya lumayan ya ada tambahan, sekarang sepertinya turun," ujarnya.

Senada dengan Amalia, Laura (46 tahun), ibu rumah tangga dengan dua orang anak yang juga menjual kue kering lebaran ala rumahan mengaku pesimistis dengan potensi pendapatan di ramadan kali ini. Proyeksinya, omzet tahun ini akan lebih rendah dari tahun lalu yang berkisar Rp4 juta sampai Rp6 juta.

"Seperti tahun ini akan sepi untuk kue kering lebaran, sekarang pesanan 10 toples saja belum ada. Padahal, tahun lalu bisa jual 70 toples yang harganya Rp45 ribu sampai Rp85 ribu per toples," ujarnya.

Atas kondisi ini, Laura mengatakan dirinya akan menggencarkan pemasaran mulai minggu depan. Kebetulan, ia juga memasarkan kue kering lebarannya di akun Instagram @cemilanmart_lefafood.

Laura mengaku tak ingin muluk-muluk, setidaknya ia berharap penjualan kue kering tahun ini sama dengan tahun lalu. "Meski saya lihat juga, kira-kira sanggup tidak karena sebenarnya saya mengerjakannya sendiri, tidak ada pegawai, hanya kadang dibantu dua anak saya. Ya saya coba mengalir saja," tuturnya.

Kendati begitu, Laura mengaku potensi penurunan omzet kue kering lebaran sejatinya tidak menjadi beban pikiran. Sebab, ia memiliki usaha lain, yaitu menjual donat, pastel, ongol-ongol, hingga brownies.

Harganya bervariasi, donat Rp50 ribu per kotak, pastel Rp2.500 per potong, ongol-ongol Rp5 ribu per potong, dan brownies Rp50 ribu per loyang. Menurut Laura, hasil penjualan cemilan ini justru cukup tinggi di tengah pandemi corona.

"Sebenarnya ketutupan dengan ini yang alhamdulillah ada kenaikan dikit dan hampir setiap hari ada pesanan. Seminggu jual donat bisa 14 kotak, brownies 7 loyang, ongol-ongol 21 potong, pastel 70 potong," terangnya.

Menurut Laura, kenaikan penjualan jenis cemilan ini mungkin terjadi karena pola konsumsi masyarakat jadi di rumah saja. Dengan begitu, mereka lebih sering 'jajan' di dekat rumah. Sebab, kebetulan pesanan biasanya datang dari ibu-ibu di kompleks perumahannya.


Tags Lebaran

[Ikuti Riaumandiri.id Melalui Sosial Media]





Tulis Komentar