Dunia

WHO Sebut Pandemi Covid-19 Masih akan Lama Berakhir, Ini Alasannya

Tedros Adhanom Gehebreyesus (AFP)

RIAUMANDIRI.ID, JENEWA – Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Gehebreyesus mengatakan bahwa perkembangan pandemi Covid-19 di seluruh dunia saat ini masih jauh dari berakhir. Ini karena masih adanya negara yang tidak melaporkan kematian akibat kasus Covid-19.

Ia mengatakan WHO akan terus meningkatkan kepedulian meningkatnya laporan kasus Covid-19 di Afrika, Eropa timur Amerika Latin, dan beberapa negara Asia.

"Pandemi ini masih jauh dari berakhir. Beberapa negara, kasus dan angka kematiannya tidak dilaporkan karena kapasitas pengujian yang rendah," ujarnya dalam konferensi pers di kantor pusat WHO di Jenewa, Senin (27/4) seperti dilansir CNN.

Untuk itu ia menegaskan HWO akan terus memberikan dukungan peningkatan kapasitas pengetesan dan penyediaan alat pelindung diri (APD) ke Afrika, Asia, dan negara-negara lain di dunia.

Ia mengatakan akan mengirim APD ke sekitar 105 negara dan perlengkapan laboratorium ke sekitar 127 negara. Bantuan tersebut akan dikirimkan melalui jalur udara dan laut mulai pekan depan.

Sebagai upaya mencegah gelombang dua pandemi, ia menyerukan agar warga bersatu untuk membentuk solidaritas global.

"Virus ini tidak akan bisa dikalahkan jika kita tidak bersatu. Solidaritas, solidaritas, solidaritas. Kami akan mengatakan itu setiap hari," ujarnya.

WHO sebelumnya juga mengeluarkan pernyataan yang terkait bukti kesembuhan pasien Covid-19 yang bisa kebal terhadap virus serupa.

"Saat ini belum ada bukti bahwa orang yang telah sembuh dari #Covid-19 dan memiliki antibodi [dalam tubuh] terlindungi dari infeksi selanjutnya," demikian pernyataan WHO seperti dikutip dari AFP.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah rencana banyak negara untuk melonggarkan hingga mencabut kebijakan penguncian wilayah (lockdown) setelah kasus baru virus corona mulai menurun.

Atas wacana tersebut, WHO memperingatkan belum ada penelitian dengan hasil meyakinkan bahwa tak mungkin ada infeksi corona yang kedua pada seseorang.

"Penggunaan sertifikat dan sejenisnya seperti itu justru memungkinkan peningkatan risiko transmisi [virus] berlanjut lagi," demikian peringatan WHO.

Data statistik yang dirilis John Hopkins University hingga kini ada 3.012.484 kasus virus corona dengan kematian sebanyak 208.517 secara global.


Tags Corona

[Ikuti Riaumandiri.id Melalui Sosial Media]





Tulis Komentar