Riau

Sakit Ginjal hingga Lumpuh, Warga Pelalawan Ini Berharap Bantuan Pemerintah

Zulkifli (49) Warga Dusun Pesawoan, Desa Kiyap Jaya - Pelalawan yang menderita kelumpuhan butuh perhatian pemerintah (Foto: RMID/Anton)

RIAUMANDIRI.ID, Pangkalan Kerinci - Zulkifli (49) Warga Dusun Pesawoan, Desa Kiyap Jaya, Kecamatan Bandar Seikijang, Kabupaten Pelalawan, Riau, yang menderita penyakit ginjal dan kelumpuhan hingga saat ini belum pernah menerima bantuan dari pemerintah, baik itu Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Bantuan Pangan Non Tunai atau Raskin (BPNT), Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa, BLT Kementerian/Kemensos, BLT APBD dan Sembako Kementerian/Kemensos serta Sembako APBD. Padahal Zulkifli sudah 20 tahun lebih tinggal di daerah tersebut.

Hal ini dibenarkan warga sekitar tempat tinggalnya. "Benar pak, mereka warga lama di sini," ujar salah seorang tetangga Zulkifli yang tidak ingin menyebutkan namanya, Rabu (13/5/2020).

Menurut mereka lagi, Zulkifli sudah tidak bisa berjalan normal karena penyakit yang dideritanya. Kondisinya semakin parah ketika penglihatannya juga kabur dan hanya bisa terbaring lemah di atas kasur di ruangan tengah rumahnya.  

"Sudah 10 tahun sakit ini saya derita, tapi 2 tahun belakangan inilah yang membuat saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya sudah tidak bisa bekerja lagi. Kaki ini terasa tidak bertenaga,, mati rasa ditambah lagi mata sudah rabun," ujar Zulkifli saat disambangi riaumandiri ke rumahnya.

Terkait dengan kondisi tersebut Ia menyebutkan, pernah berobat menggunakan kartu Jampersal ke RSUD Selasih setelah dirujuk dari puskesmas di daerahnya, namun tidak menerima obat.

"Waktu itu saya disuruh nebus obat oleh rumah sakit, tapi karena tidak ada uang yah, tidak jadi," ungkapnya.

Ketika ditanya penyakit yang dideritanya, Zulkifli mengatakan tidak pernah diberitahu oleh petugas kesehatan yang menanganinya. "Tidak pernah tahu pak, karena tidak pernah disampaikan kepada saya dan keluarga," terangnya.

Saat ini Zulkifli beserta istrinya Reni dan dua orang anaknya tinggal disebuah rumah kecil ukuran 5 kali 10 meter berdinding papan.

"Tanah yang saya tempati ini masih terutang. Kami takut pak, kalau disita oleh pemilik tanah,

Disamping itu, istri Zulkfli bekerja sebagai buruh harian lepas disebuah perusahaan perkebunan sawit disekitar tempat tinggalnya. Begitu juga halnya dengan anak tertua mereka terpaksa berhenti sekolah walaupun masih dibawah umur karena ketiadaan biaya dan saat ini turut bekerja membantu ekonomi kedua orangtuanya.

Zulkifli sangat mengharapkan perhatian khusus dari pemerintah berupa pemberian bantuan untuk meringankan beban hidupnya, tidak hanya pada masa covid19 ini tetapi juga untuk masa yang akan datang hingga anak-anaknya tumbuh dewasa dan dapat membiayai hidup keluarganya.


Reporter: Anton


Tags Pelalawan

[Ikuti Riaumandiri.id Melalui Sosial Media]





Tulis Komentar