Hukrim

Novel Ungkap Keanehan Persidangan, Tak Diberi Surat Dakwaan hingga Bukti Berubah

Penyidik senior KPK Novel Baswedan. (Istimewa)

RIAUMANDIRI.ID, JAKARTA – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, mengungkap sejumlah kejanggalan dalam kasus penyiraman air keras terhadap dirinya, seperti jaksa penuntut yang tak memberikan surat dakwaan kepadanya dan bukti pelengkap tidak digubris.

Dalam bincang-bincang bersama CNN Indonesia TV melalui Instagram pada Selasa (16/6/2020), Novel mengaku tak diberikan surat dakwaan oleh jaksa penuntut umum atas perkara penyiraman air keras dengan terdakwa Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis.

Novel meminta surat dakwaan dengan maksud menegaskan pemberitaan media massa bahwa kedua terdakwa yang merupakan anggota Polri aktif itu menyiram wajahnya dengan air aki dengan alasan motif dendam pribadi.

Permintaan yang dilayangkan Novel diajukan saat ia memberikan keterangan dalam kapasitas sebagai korban dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (30/4).

"Setelah dakwaan, kemudian pemeriksaan saksi-saksi. Pertama saya dipanggil sebagai korban. Ketika saya memahami, melihat sebagai korban bahwa dakwaannya seperti itu, saya sempat meminta apakah saya boleh mendapat dakwaannya. Enggak dikasih. Enggak masalah lah, saya mendengar dari media dakwaannya seperti apa," kata Novel.

Mengetahui dakwaan jaksa yang aneh, penyidik senior komisi antirasuah itu lantas memberikan dokumen pelengkap dengan tujuan membantu jaksa.

Dokumen tersebut di antaranya salinan hasil investigasi Komnas HAM yang mengungkapkan serangan berkaitan dengan pekerjaan Novel sebagai penyidik KPK. Ada pula keterangan tertulis berisi informasi tiga saksi penting yang mampu menjelaskan peristiwa sebelum serangan terjadi.

"Dan ternyata apa yang saya sampaikan di persidangan itu, berpikir positif, terus berpikir positif walaupun sebetulnya ragu juga, ternyata di persidangan aneh. Saya baru tahu ternyata saksi-saksi kunci tidak masuk dalam berkas perkara dan bukti penting tidak dibicarakan di persidangan, bahkan ada bukti yang berubah," tutur Novel.

Mantan anggota Polri ini juga mempertanyakan alasan jaksa tidak menghadirkan tiga saksi penting ke muka persidangan. Menurut Novel, kehadiran saksi itu bisa membuat peristiwa penyiraman air keras menjadi terang.

"Keterangan saksi kunci ini menjelaskan peristiwa sebelum saya diserang yang dengan begitu akan tergambar ada oknum siapa yang terlibat, ada berapa orang yang terkait dengan perbuatan, siapa saja yang terlibat dalam perbuatan persiapannya, pelaku sejak H-2 sudah ada di lokasi dan bersiap, dan lain-lain. Fakta-fakta itu ada semua, tapi tidak diperiksa. Kan tidak menjadi fakta persidangan," ucapnya.

Novel kemudian mengatakan bahwa tuntutan satu tahun penjara terhadap kedua terdakwa sangat menyakitkan baginya.

"Yang lebih menyakitkan lagi ini bukan sekadar menyakitkan saya, menyakitkan orang yang punya perasaan, menyakitkan orang yang masih berharap terkait dengan keadilan dan ini luar biasa, dituntut 1 tahun untuk perkara penganiayaan berat berencana, menyebabkan luka berat, dengan akibat pemberatan itu dituntut 1 tahun. Pertanyaannya adalah ini jaksanya yakin enggak sih itu pelakunya?" ujar Novel.


Tags Hukum

[Ikuti Riaumandiri.id Melalui Sosial Media]





Tulis Komentar